Keangkuhan
“Sudah
siap?” Tanya lelaki yang ada dihadapanku, yang sudah hampir satu jam
menungguku dengan penuh kesabaran. Aku tersenyum kearahnya mengisyaratkan kalau
aku sudah siap untuk pergi bersamanya kesuatu tempat yang masih
dirahasiakannya. Seperti sebuah kejutan kecil menurutnya. Kami kemudian
berangkat menggunakan sepeda motor yang menurutnya adalah sepeda motor
bersejarah dalam hidupnya, “Enu tau tidak, ni motor ni hadiah keberuntungan
yang sa dapat, waktu sa ikut undian berhadiah di Swalayan Pagi. Keren to?” aku
selalu menyukai senyumnya saat bercerita dengan penuh gairah, membanggakan
segala sesuatu yang didapatkannya dengan hasil kerjanya sendiri.
“Enu,
sepertinya macet jalanan ni malam o, kita ikut jalan tikus seja em? Mau?”
“Tidak.
Sa tidak mau, tidak apa-apa to. Sekali-sekali berada di tengah kemacetan tu
enak tau, lagian kita tidak buru-buru ju to Na.” entah mengapa aku selalu
menolak melewati jalan tikus kalau sedang tidak buru-buru, aku selalu jatuh
cinta pada jalanan dan gemerlapan lampu-lampu kendaraan bermotor, kuning,
putih, merah, berwarna sekali, pada redupnya lampu jalanan, pada bisingnya
suara kendaraan bermotor, pada menggodanya mall, restoran, cafe, kaki
lima, dan tidak mau kalah angkringan. Aku selalu jatuh cinta pada suasana itu,
pada kota ini, Yogyakarta. Kota itu selalu memberiku banyak kejutan akan
kebudayaannya, keseniannya, kemodernannya, kesederhanaan yang membuatnya begitu
istimewa. Arrgghh, sama seperti saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota
budaya ini, “Menn, kau harus coba tu makanan yang ada di seberang ni jalan,
enak nu ga.” Tanpa menunggu persetujuanku, kau menggenggam erat tangan ku dan
membantuku menyebrangi jalan yang ramai sekali. Dengan sedikit berlari, kami
sampai disebuah tempat makan yang sangat aneh menurutku, “ini namanya
angkringan. Kau mau makan apa? Kita makan nasi kucing seja em? Biasa akhir
bulan.” “ mas, naci kucing 2.” Seperti biasa, ia selalu menedepankan
keinginannya, pendapatku mengenai hal-hal baru tidak di dengarkan. Mungkin
karena ia mau memamerkan pengetahuannya menngenai kota ini, padahal kami
sama-sama baru pertama kali tinggal di tempat ini, tapi aku suka caranya.
“enu?”
“io?”
“kenapa
diam seja? Tidak biasanya o,” aku hanya tertawa kecil dan mengatakan tidak
apa-apa, mungkin aku terlalu terlarut dalam pikiranku, dalam keindahan yang
selalu kurindukan. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggang lelaki itu,
hmm…nyaman sekali. Senyaman seperti saat dia memelukku ketika aku menangis,
tidak banyak yang dia katakan. Tidak ada kalimat penghiburan, tidak ada kalimat
penguatan, dan tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Mungkin ia
mau membiarkanku menenangkan diriku sendiri, atau mungkin dia ingin membiasakan
diriku untuk tegar, atau entalah.
“Na, kita
kemana to sebenarnya? Masih lama kah?”
“tidak
nu, sebentar lagi sampai. Yakin enu tidak pernah lewat ni jalan?” aku tidak
yakin kalau yang ku pikirkan itu benar, tapi sepertinya tidak begitu asing
bagiku.
“sepertinya
sa sering lewat sini na, cuman sa tidak yakin.” Lelaki itu hanya tertawa kecil
seakan berkata, ‘yah, ini bukan tempat yang asing memang, tapi begitu istimewa’.
Tidak begitu lama, kami sepertinya sampai di tempat tujuan, ramai sekali. Aku
tersenyum dalam hati, 'yah, aku pernah kesini, tempat selalu menawarkan
keistimewaan tersendiri, tempat yang selalu punya cerita, dan tempat yang
selalu berhasil membuatku jatuh cinta.' Ramai sekali, mungkin karena malam ini
adalah malam sabtu, dan besok adalah akhir pekan. Lelaki itu tersenyum
kearahku, begitu manis, dan sangat asing rasanya.
“mai su.”
Katanya. Aku berjalan di belakangnya. Ramai sekali memang, dan aku berusaha untuk
bisa menyebrangi jalan kali ini sendiri, aku bukannya takut, hanya saja aku
tidak berani untuk egois dengan pengendara bermotor lainnya. “kau terlalu sok
rendah hati kalo di jalan ni. Sante saja.” Kata-kata itu selalu terngiang di
telingaku saat detik-detik untuk menyebrangi jalan. Konyol memang, tapi itulah
aku. Seseorang menggenggam tanganku erat, aku terserentak kaget dan menatapnya,
berharap dia adalah orang yang sama seperti
saat aku berada disituasi ini. Lelaki itu menatapku lembut. Ia
menggenggam tanganku erat dan bersama-sama menyebrangi jalan yang sama dengan
jalan yang pernah ku lalui dengannya. Aku tersadar, bahwa aku terlalu terlarut
dalam pikiranku, bahwa aku terlarut dalam semua khayalanku dan aku terlarut
dalam semua kenanganku. Aku melirik genggaman tangan ini, dan merasakan betapa
berbedanya genggaman ini. Betapa genggaman ini tidak membuatku jatuh cinta,
bahwa genggaman ini tidak membuatku tersipu malu dan bahwa genggaman ini tidak
membuatku bangga, tapi genggaman ini membuatku merasa dilindungi, membuatku
nyaman dan membuatku merasa dimiliki.
“rame
sekali ni malam ni nu. Su lapar?” Tanya lelaki itu kepadaku. Aku menggeleng
pelan. Kami berjalan kecil di pinggir jalan itu, lelaki itu bercerita banyak
sekali di sepanjang perjalanan, ia bercerita tentang keluarganya, hobinya,
kegiatannya, bahkan percintaannya. Aku hanya bisa mengeluarkan ekspresi
seadanya dan tak bisa seceria dulu,
seceria seperti saat aku bersamanya, mungkin karena topik yang dibicarakan
berbeda dan aku memahaminya dengan sangat baik.
“nu…”
“Menn…”
aku menatap lelaki yang ada dihadapanku, ia tampaknya kecewa sekali.
“Menn,
kau dimana?” tanyanya
“sa masih
disini, hanya saja…” hanya saja dia selalu ada di depan mataku, hanya saja dia
tidak pernah membiarkanku untuk bersama orang lain, hanya saja dia seperti
membentengiku, dan hanya saja aku yang selalu menganggapnya ada. Lelaki itu
tahu bahwa aku sedang tidak baik-baik saja, bahwa ada hal lain yang sedang kupikirkan,
bahwa,.. arrggghhh ingin rasanya aku berteriak mengeluarkan semuanya dari dalam
hati ini.
Aku ingin
menangis, lelaki itu memelukku erat ditengah keramian itu, kenapa selama ini
aku tidak pernah menyadari keberadaan lelaki ini? Lelaki yang ada saat dia yang
ku anggap luar biasa meninggalkanku dengan cara yang luar biasa. Lelaki yang
selalu mengusap air mataku, lelaki yang begitu sabar mendengarkan ceritaku,
lelaki yang tidak pernah membiarkanku menyalahkan diri sendiri atas
kepergiannya, lelaki yang dengan perkasanya membelaku atas semua ketidak adilan
yang ku terima dan lelaki yang tidak pernah menyerah dengan segala perlakuanku.
Ada yang berbeda memang
semenjak lelaki itu ada dalam
hari-hariku, hanya saja aku yang tidak pernah peka dengan semua yang
sudah diberikanya. Aku terlalu sombong untuk mengakui bahwa lelaki itu telah
membuatku jatuh cinta tanpa kusadari, dan aku terlalu
takut untuk kembali merasakan dan menjalani semuanya lagi.
“nu, makan di sini e ?” tempat ini lagi? Angkringan. De
Javu yang manis. Aku tesenyum kecil dan
menolak untuk makan di sana, sama seperti aku menolak untuk kembali membiarkan
dia hadir dalam hidupku, menolak semua waktu lebih banyak lagi untuk bersama
kenangannya, menolak untuk tidak mengubah diriku menjadi lebih baik, dan
membiarkan diriku menemukan kebaikan baru di luar sana bersama kebaikan yang lain, menjalani hari-hari luar biasa dengan sejuta
kebaikan, dan membiarkan diriku untuk selalu jatuh cinta kepada lelaki itu dan
semua dunianya, dunia kami.
Karena aku mencintainya
dengan segala ‘kebiasaannya’.
Are you falling in love again? Hahaha
BalasHapus