Aku, Kau, dan Kenangan
Aku menghirup aroma khas teh, ciri khas yang sangat kusukai. Tidak perlu gula yang berlebihan, kebetulan aku tidak begitu menyukai makanan dan minuman manis. Aku hanya perlu seperempat sendok teh gula sebagai penambah cita rasa tanpa menghilangkan sama sekali aroma teh kesukaannku. Aku memandang jauh keluar, keluar jendela kamarku, lebih jauh lagi bahkan. Rintikan hujan sore ini membuatku hanya bisa berada di kamar dan menikmati alunan music slow rock dan secangkir teh hangat. Hujan sore ini membatalkan rencanaku untuk jalan-jalan sekedar melihat-lihat lingkungan sekitar yang baru saja ku tempati beberapa hari terakhir. Tempat ini masih sangat asing dengan tempatku sebelumnya, tapi setidaknya lebih membuatku nyaman sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku disini.
Kepindahannku
tidak meninggalkan kenangan bahkan luka seperti kepindahan-kepindahan di
film-film romantis yang sering ku tonton sebelum tidur. Kepindahan ini hanya
berpindah tempat tinggal tetapi isinya tidak. Begitu aku menyebutnya.
Barang-barangku juga masih berantakkan. Belum sempat ku bereskan semuanya. Aku
masih betah dengan keadaan seperti ini. Merasa selalu menjadi orang yang
baru saat akan pindah. Pribadi bersih dan siap untuk dicoret-coret dengan
kisah-kisah baru. Aku tersenyum kecil sambil meneguk teh yang sedari tadi hanya
kupegang.
Hujan
masih belum berniat untuk reda, bahkan lebih deras dari sebelumnya, aku
melihat disekelilingku, masih banyak kardus-kardus berisi barang-barangku yang
belum ku tata di dalam kamarku. Satu persatu kubuka isi dalam kerdus tersebut.
Buku-buku kuliah disemester lalu. Aljabar linear, kalkulus diferensial,
geometri ruang, kalkulus integral, statistika dan masih banyak lainnya yang
membuatku merasa mati suri sekali lagi. Bukan apa-apa, matakuliah itu sudah
berhasil membuatku pusing dan mati sementara waktu. Nilaiku hancur berantakkan
dan dengan susah payah diperbaiki kembali. Ugh, mengulangi matakuliah yang sama
memang sangat membosankan. Namun mau bagaimana lagi? Aku bukanlah orang yang
sangat menyukai matematika, hanya saja aku ingin masuk pada program studi itu.
Mencari peruntungan, tapi sebenarnya ingin menghindari fisika dan biologi. Aku
tertawa kecil jika mengingat-ingat kembali kisah-kisah disemester sebelumnya.
Terkadang
hal sekecilpun bisa memicu sebuah kenangan yang sangat aneh dan indah. Mereka
yang pergi tanpa pesan dan terbungkus dalam sebuah kotak kecil yang merupakan
sebagian kecil dari kenangan yang kita miliki. Kenangan itu seperti kotak
coklat. Sekali kau membukanya, maka kau tak akan berhenti melahapnya.
Perhatianku tertuju pada sebuah benda kecil yang terselip dalam buku-buku usang
itu. Sebuah gantungan kunci merah dengan hiasan kerang di dalamnya. Cantik
sekali. “Menn,
sa punya sesuatu buat kau.” Aku tidak menjawab hanya menunggu lanjutan dari
kata-kata lelaki yang berada di depanku dengan sangat antusias. “ini, buat kau.”
Aku tersenyum manis ke arahnya, sebuah gantungan kunci merah dengan hiasan
kerang di dalamnya disimpan di telapak tanganku. Belum sempat aku mengucapkan
terima kasih padanya, lelaki itu mencium keningku dan berbisik, “happy
anniversary 1th momang. Love you”. Lelaki itu kemudian meninggalkanku yang
masih terkejut dibuatnya. Hari ini tanggal berapa? Aku terheran-heran dan
menanyakan kepada temanku yang kebetulan lewat di depanku. “astaga
Menn, tanggal 5 ni hari to.” Oh my God, 5 january 2011. Anniversary. Kenapa
rasanya seperti mimpi? Belum pernah sekalipun aku menjalin hubungan selama ini
dan dengan kisah yang luar biasa. Bagaimana tidak, lelaki itu adalah yang bukan
kuharapkan sebelumnya, karena lelaki itu tidak pernah sependapat denganku
sebelumnya, kami selalu berselisih dalam segala hal. Tapi dia bisa menjadi
teman yang baik karena sering mengkritikku dengan sangat spontan dan, entah
bagaimana, kami menjadi sepasang kekasih yang benar-benar aneh. Tapi kami
menjalaninya dengan santai. Lelaki itu berhasil membuatku jatuh cinta dengan
ketulusan dan indahnya tatapan matanya, dan aku baru menyadarinya beberapa
minggu terakhir ini. Saat aku merayakan tahun baru terbaik yang pernah ada. Aku
adalah seorang anak rumahan yang tidak begitu menyukai keluyuran tidak jelas.
Dan segala sesuatu selalu aku beritahu kepada orang tuaku. Betapa
membosankannya hidupku sepertinya. Tapi itulah, dan untuk pertama kalinya aku
mendapat izin untuk pergi bersamanya merayakan tahun baru, melihat pesta
kembang api dan keliling merasakan suasana natal yang belum hilang. Begitu
butanya aku, pikirku.
Alunan
lagu selimut hati milik dewa 19 membuatku lebih jauh berjalan dalam
kenangan-kenangan lamaku bersamanya, bersama lelaki yang selalu pernah
memberiku berbagai macam boneka yang bersama kami berikan nama, yang pernah
memberiku bunga boneka, yang pernah memberiku sebuah kalung kebanggaannya, yang
pernah memberiku kejutan-kejutan kecil, yang memberiku cerita, kisah, kenangan
dan memori yang manis. Aku kembali membuka diary-diaryku yang masih utuh dengan
segala kenangannya, beberapa diary menuliskan tentangnya. Tentang bagaimana aku
pernah membencinya, tentang bagaimana aku mulai menyukai segala perhatiannya,
tentang bagaimana dia menggenggam tanganku erat menguatkannku, tentang
bagaimana ia selalu berdiri dan berjalan disampingku, tentang bagaimana ia
memelukku erat saat aku menangis dan tentang bagaimana aku jatuh cinta padanya,
jatuh cinta setiap hari dengan segala yang ia miliki dan dia lakukan untukku.
Sederhana memang, tapi aku menyukainya.
“Menn?” sebuah pesan text
masuk di hapeku malam itu.
“Na, kau bisa balas sms?
Masih bisa baca sms?”
“Bisalah, kan sap mata en sap
kaki tidak dijahit dua-duanya, sap tangan masih bisa gerak walaupun kaku ni.
Eh, kau su makan?” dan untuk pertama kalinya ia berhasil membuatku menangis.
Bagaimana tidak, dalam keadaan sekarat seperti itu karena kecelakaan, ia masih
bisa menanyakan keadaanku dan khawatir tentangku. Sebesar itukah rasa yang ia
berikan untukku? Dengan gementaran, aku membalas pesan textnya
“Eh, sa disini baik-baik
seja. Kau tu sudah kritis begitu masih ju tanya-tanya saya. Seharusnya saya
yang tanya begitu. Bukan kau.”
“ia, sa tau. Maaf, tadi kau
ke rumah sakit im? Sa tidak sadar em, tapi sa tau kalo kau datang tadi. Menn,
sa tidur duluan em, sa cape sekali. Love you.” Tangisku pecah, begitu aku
menyayanginya dan berjanji untuk tetap ada dan melindunginya. Betapa aku
beruntung memilikinya.
Aku
membaca selembar demi selembar kisah yang pernah kutuangkan kedalam diary
kecilku, segala cinta, kebahagiaan, dan keluh kesah. Kami tumbuh bersama dalam
cinta yang kami bangun sendiri, dengan perasaan yang kami yakini, dan dengan
tindakan positif yang saling membangun. Kami saling menguatkan, memberi
semangat, dan kami memiliki mimpi yang sama.
“kau tau apa yang harus kau
ubah?”
“apa?”
“sifat tu. Jan terlalu egois.
Jan terlalu suka marah-marah tidak jelas. Emosi tu di jaga. Su besar kau tu.
Harus tau control emosi. Baik kalo sa ada terus den kau nanti. Kalo tidak
bagaimana coba?”
“kalo begitu, kau harus tetap
den saya, biar kau selalu bisa control saya. Hahahahahahah” ia tertawa lepas
seakan menjadi pemenang dalam perdebatan kecil tadi. “men, san anti mau ada
mobil sport.”aku tecengang mendengar keinginan yang baru saya di
ucapkannya. “yakin? Tidak salah?” ia menganggukkan kepala tanda yakin. Dengan
senyum simpul ia menatapku dan memegang tanganku lembut, “karena itu, sa harus
sukses biar bisa mewujudkan sap keinginan.” Ia mengatakannya terlihat begitu
yakin dengan apa yang dicita-citakannya. Aku tersenyum. Semoga.
Kenangan
tidak akan pernah habis seperti potongan coklat dalam sebuah kotak coklat
dan tidak selalu manis seperti rasanya. Karena pada dasarnya coklat memiliki
cita rasa original yang pahit dan dengan berbagai proses sehingga menghasilkan
rasa yang manis. Perasaan adalah salah satu keadaan manusia yang tidak bisa di
gambarkan dan dilambangkan dengan apapun. Perasaan begitu aneh dan berubah ubah
seenaknya. Ketika merasa gugup dan akhirnya histeris, berkaca-kaca kemudian
menangis, tersenyum dan akhirnya tertawa bahagia, dan aku tahu, kaulah penyebab
semua emosi ini dan aku tidak pernah punya alasan untuk benar-benar
meninggalkannya saat semuanya sekan berubah.
Jika
kau memiliki sesuatu, jangan terlalu terlarut pada kebahagiaan yang kau rasakan
saat itu dan jangan pernah melupakan apa yang kau miliki. Kebahagiaan kadang
membuat kita lupa pada apa yang menyebabkan kita bahagia dan yakini. Aku
membuka halaman diary yang kutahu persis apa isinya, bagaimana sebuah keyakinan
membuatku lupa pada penyebab keyakinan itu, bagaimana kenyamanan menjadi sebuah
malapetaka besar dari apa yang telan kami jalani bersama. Bagaimana aku begitu
terlena dengan semua kebahagiaan yang kurasakan, dan bagaimana aku lupa pada
satu hal kecil yang berdampak sangat besar pada jalan yang sudah dibangun dan
dijalani bersama.
Pengakuan.
Hal
ini menghancurkan semuanya dengan sempurna dalam satu kedipan mata. Semuanya
berubah dengan sangat cepat, senyum itu tidak pernah lagi sama, bahkan tatapan
itu tidak lagi bisa kuartikan dan kuarungi. Samar-samar dan aku tidak tahu
bagaimana kelanjutannya. Asing sekali rasanya. Dan apa yang bisa kulakukan?!
Aku ingin sekali mengembalikan senyum itu, tatapan itu dan cara itu seperti
semula, dan aku sadar, bahwa aku berjalan dengan bayangannya di jalan yang kami
buat. Dia tidak lagi ada di sana, aku cacat. Yah, rasanya seperti sebagian
tubuhku hilang bersamanya. dan perlahan aku menyadari, dan aku masih belum
memiliki alasan untuk benar-benar meninggalkannya saat semuanya telah berubah.
Aku
membuka lembaran berikutnya. Kosong. Kenapa tak pernah kutulis? Pikirku.
Bukankah aku selalu menuliskan apa saja yang aku rasakan di sana? Aku kembali
mengingat-ingat bagaimana kejadian setelah semuanya berubah tidak seperti dulu
lagi, hanya ada beberapa gambar abstrak dan kata-kata makian yang tidak jelas.
Kau mungkin tau,rasanya meninggalkan sesuatu yang tak pernah ingin kau
tinggalkan, tapi harus kau tinggalkan karena kau tahu bahwa ia akan lebih baik
tanpamu.
“Menn?”
aku terserentak kaget saat seseorang memegang pundakku. Aku menoleh dan
kudapati sepasang mata indah dan senyuman yang menawan.
“hujan
su berhenti dari tadi, sa hubungi kau tidak bisa, sa ketuk tidak buka, trus sa
masuk su, eh kau melamun lagi disini. Ayo berangkat.” Seseorang yang dengan
caranya mengangkatku dari keterpurukan kenanganku. Kenangan kosong yang tak
pernah kucatat dalam lembar diaryku, karena aku tau dan rasakan sendiri
bagaimana susahnya aku merangkak dan mencoba berjalan, walau pernah terjatuh
untuk kesekian kalinya, bagaimana aku dengan semua yang kupunya selalu dicemoohkan oleh orang yang kuanggap sebagai sahabat karena kebodohanku sendiri
yang kuyakini ini jalanku, dan tidak pernah salah. Bahwa tidak ada yang pernah
mendukungku untuk tetap berada dititik yang telah ku tetapkan dan bahwa aku
sangat bingung karena keterpurukannku, dan aku hanya menunggu dia yang berani
mengulurkan tangannya, menarikku dan menuntunku kejalan yang tak pernah kulalui
sebelumya. Dan dengan keyakinanku, aku menemukannya. Menemukan sosok yang telah
mengangkatku dan membawaku kejalan yang tak pernah kulalui, sosok yang berhasil
membuatku menjadi pribadi yang baru, sosok yang menjadi rumah baruku.
“Bisakah kita melupakan
seseorang?” tanyaku disuatu waktu. “Tidak nu, kita hanya berusaha untuk tidak
memikirkannya lagi.” Jawabnya lembut.
Ia
mengusap rambutku dan tersenyum kearahku seakan berkata ‘all is well, make it
simple.’ Dan aku bangga berada ditahap ini. Tahap dimana aku telah menemukan
alasan yang tepat untuk benar-benar meninggalkannya, meninggalkan kenangan,
menutup dan menyimpannya ke dalam sebuah kotak kenangan, dan meraih tangan
yang membantuku berdiri dan membawaku ke kenangan baru.
Dan
aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta dengan cara dan kepada dia yang
berbeda.
By
Menn
Komentar
Posting Komentar