Sebuah panggung pertunjukan
Hitam. seakan semuanya
berubah menjadi seperti sebuah panggung teater dengan sorotan lampu seadanya,
dan hanya aku satu-satunya orang yang duduk dibangku penonton. Panggung itu
hanyalah sebuah panggung kosong yang sepertinya sudah lama tak pernah digunakan
untuk pementasan, hanya aku sendiri
disana berteman keheningan yang kuciptakan.
“Apa yang sedang kau
lakukan, nona?” aku terserentak kaget oleh sebuah suara yang berasal dari balik
panggung. Aku terdiam, berharap aku akan mendengarnya lagi. “Panggung ini tidak
pernah digunakan sudah sejak lama, kau bisa membuktikannya dengan menghitung
jumlah serangga yang hidup di sekitar panggung ini, dengan kerasnya suara debu
yang berjatuhan dilantai dan hembusan napasmu sendiri. Kau bisa melihanya bukan?
Hanya aku yang ada disini” lanjutnya. Hening.
“Dimana semua orang? Apakah selama
ini kau sendirian?” aku memberanikan diri untuk menciptakan sebuah suasana
ramah diantara kesunyian itu. Ia terisak, dengan isakan yang begitu lirih
seperti menahan kesakitan didalam hatinya. Aku tertegun. “Mereka semua telah
pergi nona, dulu panggung ini begitu ramai oleh berbagai pertunjukkan. Kebahagiaan,
persahabatan, kekeluargaan, cinta, kesedihan, semuanya bercampur menjadi satu
dalam pertunjukkan yang epic. Tetapi tiba-tiba mereka menghilang bagai ditelan
bumi.” Terdengar langkah kaki dari tempat aku duduk, semuanya masih hitam. Lampu
sorot yang seharunya menyoroti tokoh yang sedang berdialog itu tidak bisa
berfungsi dengan baik. Aku mencoba berdiri dan berjalan kearah ruangan operator
tetapi sebuah langkah kaki menghentikanku. “Apa yang akan nona buat dengan
mengubah lampu sorotnya? Apakah nona ingin---.“ “Aku ingin mencari mereka yang
hilang, mungkin saja mereka bersembunyi dibalik barang-barang di ruangan ini,
sehingga aku bisa membuat sebuah pertunjukkan baru di panggung ini. Apakah kau
setuju?”
“Aku sudah sering mencobanya
nona, mereka sudah benar-benar pergi dari sini. Mereka bahkan tidak
meninggalkan jejak kaki sedikitpun di panggung ini. Mereka pergi tanpa berkata
satu katapun, sehingga aku tak tahu ekspresi apa yang harus ku keluarkan, aku
tidak pernah menangis, tidak juga pernah tertawa, aku hanya tidak pernah
berhenti berpikir, dan tiba-tiba nona membuka pintu ruangan ini, dan duduk
ditengah bangku-bangku itu berharap akan ada pertunjukkan hari ini, tapi
nyatanya tidak ada.” Aku menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan semua
kepenatan yang sudah lama kusimpan sendiri, aku mengganti posisi dudukku dengan
memeluk kakiku dan sepertinya aku mulai tertarik dengan pertunjukan prolog ini.
“Terkadang, mereka berubah dan tiba-tiba pergi darimu sebenarnya mereka hanya
mulai tumbuh dewasa, dan kau tidak menyadari itu. Mereka mencari sesuatu yang
baru yang tidak mereka temukan disini, kau mungkin bisa memberikan semua yang
mereka ingikan, tapi mereka membutuhkan sebuah pembaharuan yang tidak bisa di
jelaskan.”
Panggung itu kembali sepi. Sesepi
sepertipertama kali aku berada disini, aku kembali bisa mendengarkan hembusan napas
dan detak jantungku, dan buturan debu semakin memenui panggung ini. Oh tidak,
pertunjukkan tadi sepertinya sudah berakhir dengan kalimat terkhirku. Dia sang
tokoh sepertinya menghilang dibalik panggung tanpa menunjukkan wajahnya
dihadapanku. Aku tidak pernah mengerti dengan semua deskripsi yang telah diutarakan
sang tokoh yang memiliki suara seorang wanita. Yang kutau bahwa, aku melihat
sebuah pertunjukkan prolog dalam hitam dan lampu sorot seadanya dan sangat luar
biasa.
“Mau kemana nona? Pertunjukkan
ini belum selesai.” Aku membalikkan badanku kearah panggung dan terserentak
kaget. Sang tokoh duduk tepat ditengah panggung dan lampu sorot menyinari
wajahnya yang putih dan rambutnya ombak terurai sebahu. Aku mencari pegangan
dan duduk kembali menatap panggung itu. Sang tokoh tidak berbicara hanya
menatapkau dalam diam yang berkepanjangan melihat keanehan yang kuciptakan. Aku
mencoba berkedip dan mengucek mataku berkali-kali berharap pikiranku telah
meracuni pandanganku. Sang tokoh menahan tangisannya, matanya berkaca-kaca dan
napasnya tidak beraturan.
“Nona, apakah kau juga akan
pergi?” “yah, aku akan pergi dengan membawamu dari tempat ini. Tak seharusnya
kau disini. Aku akan membawamu ke tempat dimana kau bisa melakukan pertunjukkan
lagi. Kau akan bertemu dengan mereka yang telah meninggalkanmu, dan kau akan
bahagia disana.” Aku menahan isak dalam tangisku, berharap ia tak melihat
kearahku dan melihat cucuran air mataku melihatnya seperti ini. “kau kau baik
sekali, nona. Namun, aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini, jika kau
ingin melihatku bahagia dan kembali mebuat pertunjukkan lagi, cukup kembalikan
mereka yang sudah nona ambil dari tempat ini, biarkan mereka tetap disini
bersamaku, karena kau sudah cukup bahagia dengan pertunjukkanmu yang sekarang.
Biarkanlah kami disini, di panggung ini dan menjadi sebagian kecil dari
pertunjukkanmu yang sekarang.” aku berlari kearah tokoh itu dan memeluknya
erat. Yah, aku memeluk diriku sendiri disana, diriku yang hidup dengan penuh
kesakitan akan semua perlakuanku, diriku yang telah aku tinggalkan begitu lama dan
membawa semua kenangannya, diriku yang telah kusembunyikan dan ku kubur
dalam-dalam, dan aku melihat diriku sendiri dalam hitam yang kuciptakan, lebih
jelas dan sangat jelas.
“Maaf, mereka seharusnya tidak kurampas dari sini,
mereka membutuhkanmu sebagai sutradara untuk mengenangkan memori-memori yang
telah kurebut darimu.”
Hitam. seakan semuanya
berubah menjadi seperti sebuah panggung teater dengan sorotan lampu seadanya, dan
sebentar lagi sebuah pertunjukkan teater akan dimulai dalam hitam dan lampu temaram.
by
Menn
Komentar
Posting Komentar