Apa yang harus dilakukan disaat
seperti ini? Saat kau hanya punya sepasang telinga untuk mendengar cemoohan
orang diluar sana, punya sepasang mata yang hanya bisa memandang orang dari
dekat dan dari jauh, punya kedua tangan yang bisa meraih dan menggenggam erat,
punya kedua kaki yang selalu bisa membawaku berjalan jauh dan berlari menuju
seonggok keinginan yang terkumpul manis diatas mata. Namun setidaknya aku
selalu bersyukur dengan segala keadaan yang kualami. Setidaknya aku memilki
keluarga yang luar biasa, yang tidak pernah sedikitpun membuatku menangis,
setidaknya aku bersyukur memiliki sahabat terkeren yang pernah ada, setidaknya
aku memiliki lingkungan yang selalu bersahabat, dan yang paling penting adalah,
aku memiliki Tuhan yang luar biasa.
Aku bernyanyi dalam
gelapnya malam, bersenandung kecil dan berperang dengan bisingnya jangkrik
diluar sana. Aku bersenandung kecil dan merasakan betapa dinginnya malam ini.
Aku bersenandung kecil
untuk melawan hatiku yang sedang gundah gulana. Dan aku bersenandung kecil
untuk mengusir kegelisahan hati ini.
Bagai seorang putri aku
menangis,
Memangis dan
meronta-ronta.
Begitu lamanya aku
menangis hingga aku tidak tahu kapan air mataku berhenti mengalir
Aku menangis hingga aku
tidak tau begitu paraunya suara indahku,
Aku menangis hingga aku
tidak tahu berapa helai tissue yang sudah kuhabiskan
aku menangis hingga tak
menyadari betapa berdarahnya hati ini,
dan aku menangis hingga
aku tak tahu, bahwa sebenarnya aku tidak menangis.
Apa yang kutulis?
Terkadang sejumlah
perasaan yang tidak menentu datang dan mengusik ketenangan system utama
tubuhku.
Perasaan yang tidak ingin
kurasakan lagi, perasaan yang sudah ku kutuk dengan segala darah dan kemarahan
yang menyeramkan.
Apa ini?
Kebencian yang sudah ku
kubur dalam-dalam kini mencuat dengan gampangnya,
Dan dengan mudahnya ia
menggodaku dengan segala khayalan nakal dan manis yang selalu kumaki, yang
dengan segala harapan ingin mengubahku dan memaksaku mengangkat bendera putih
dari pertahanan sistemku.
Anjing !!
Begitu aku memaki diriku
saat aku mulai tersadar dari semuanya.
Hampir saja aku kembali
terjerembab dalam lumpur hidup yang diciptakannya.
Hampir saja aku terbuai
dengan segala harapan dan khayalan semu, dan hampir saja bentengku terserang
oleh orang-orang munafik yang tidak tahu menahu mengenai system pertahanan yang
ku buat.
Aku lemah pada dasarnya,
dan aku menyadari itu semua,.
Dan saat aku menyadari itu
semua, setidaknya aku tidak terlambat saat alarmku sudah berbunyi..
Komentar
Posting Komentar