Seberkas kisah
"Hongkio mulai" hongkio itu adalah
permainan perang-perangan dengan senjata mungil yang terbuat dari kayu, diberi karet
gelang diujungnya dan biji-biji kopi dipakai sebagai peluru. Aku tiba-tiba
rindu permainan anak-anak ini. Waktu itu kamu pernah menarik tanganku
bersembunyi di semak-semak kebun tetangga di Cewonikit agar terhindar dari
tembakan musuh.
"Kau tidak kena tembak to?" Kamu
menyibak rambutku yang acak-acakan. Aku menggeleng pelan, aku rasa kamu khwatir
denganku sebagai satu-satunya anak perempuan yang ikut dalam permainan anak
laki-laki itu.
"Kita disini dulu sementara e…."
kamu meyakinkanku yang mulai letih, dan kitapun tertunduk menghindar dari
peluru-peluru kopi itu. Ahhh… kenapa tiba-tiba kamu bermain-main dipelupuk mataku, dejavu yang manis, dan aku
menikmatinya. Sial! Sore tadi kau tampak begitu gagah di pintu masuk Sentosa
Raya.
" Tin… enu Tin to?"
"Haiii Rendoos," aku histeris. Kau
gagah, semakin gagah,dan tak banyak berubah, meski Ruteng sudah banyak berubah
sekarang. Matamu berbinar, sinar mata yg pernah kulihat saat kamu membelikanku
kertas surat yg dibeli di toko sejati,
"Ini bagus nu, supaya tambah kop koleksi
em." Yah, hampir saja aku memelukmu saking senangnya. Senyummu masih sama
seperti saat kamu datang menjemputku pagi-pagi ke sekolah,
"Kita jalan kaki saja em em… saya punya
motor sap kae pinjam e, " aku hanya mengganguk pelan mengagumi senyummu
pagi-pagi nan dingin itu. Genggaman tanganmu masih sama seperti saat kau
menggandengku pulang ke rumah setelah main hongkio,
"Tanta diap kaki luka e, kena duri di
kebunnya Tanta Lena tadi…" kamu tak banyak berubah,....
"Nu bemana kabar? Baik?" Aku
mengangguk penuh semangat.
"O iya kenal dulu ini nu pung ipar e,
Sinta. Kami mau nikah dua bulan lagi. Datang nanti ka e…. Sa bawa undangannya
ke rumah nanti." Katamu dengan mata berbinar, sama berbinarnya saat kau
muncul di pintu kelas 3 Bahasa 1 SMANSA dan bilang,
"Nu saya lulus UMPTN ee, sa jadi kuliah
di Jakarta, ko tau sa senang sekali nu ga..." Deggg!! Mendadak pusing,
maagku tiba-tiba kambuh. Kata temanku stress bisa memicu peningkatan asam
lambung, dan itu aku. Tahukah kau bahwa kaulah topik utamaku bercerita tentang
serunya permainan masa kecilku pada mama? Tahukah kau bahwa kertas surat
pemberianmu adalah satu-satunya kertas surat yang tersisa di kamarku dan telah
kubingkai menjadi pajangan indah di dinding kamarku? Tahukah kau bahwa aku
begitu bahagia kau ajak berjalan kaki ketimbang dengan bemo atau motor ke sekolah?
Di hati aku berharap jalan itu janganlah berujung agar aku bisa berlama-lama
denganmu. Tahukah kau bahwa kakiku sama sekali tidak sakit walau terkena banyak
duri di kebun Tanta Lena, karena kau ada, dan bahwa aku tidak pernah takut
menantang musuh-musuh kita karena ada kau yang siap menjagaku dari
peluru-peluru kopi. Tahukah kau bahwa aku menangis semalaman sedih memikirkan
akan kau tinggalkan bertahun-tahun ke Jakarta, bahwa perpisaan sekolah menjadi
hal yg sangat tidak menyenangkan untukku.
"Nu baik suda e, nanti baru kami
jalan-jalan ke rumah e." Kau menepuk halus pundakku, sama seperti saat kau
meraihku untuk mendekat padamu,
"Nu sa sayang kau e, kau baik-baik disini
em...." Menepuk pundakku dan berlalu pergi menaiki travel yang akan
membawamu pergi. Dia disampingmu tersenyum ramah padaku. Kaupun demikian..menatap
mataku lekat dan tersenyum dgn begitu manisnya, masih sama seperti dulu.
Aaarrrgg...Ruteng.... Aku patah hati, padahal baru sebulan aku terpesona dengan
indahmu. Tiap sudutnya mengingatkanku akan indahnya masa kecilku yg manis, masa
remajaku yang luar biasa dan cerita cinta yang tak jelas. Kau masih membingkai
semuanya rapih mesti ada beberapa sisi kotamu yang tampak berubah lebih mewah.
Kau selalu menjadi kota yang nyaman untuk ku kembali. Aku menatap tumpukan
kertas yg berserakan di meja, dan aku kini menemukan alasan yg tepat untuk
melanjutkan program pasca sarjana ku ke Yogyakarta.
..move on...
by: Kethy Senudin
**
Enu, nu: panggilan untuk perempuan
kop: kau punya
diap: dia punya
sa: saya
kae: panggilan untuk kakak laki-laki
bemana: bagaimana
pung : punya

Komentar
Posting Komentar